Suatu saat, seorang guru merekomendasikan kepada muridnya untuk berguru kepada seorang sufi ternama. Setelah melewati perjalanan yang amat panjang, sang Murid akhirnya bisa berjumpa dengan guru yang dimaksud.
Betapa kagetnya setelah ia mengatahui rumahnya yang mewah bak istana raja. Ia bertanya kepada para tetangganya, apakah betul bahwa istana itu tempat tinggal sang Sufi sebagaimana yang direkomendasikan oleh gurunya. Semuanya menjawab “Ya”.
Lebih kaget lagi setelah si pemilik istana itu datang dengan pakaian yang mewah dan kendaraan yang luar biasa bagusnya. Sang murid bertanya-tanya dalam hatinya, apakah benar yang dimaksudkan oleh gurunya. Akan tetapi karena telanjur sudah menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan, iapun menjumpai Sufi yang kaya raya tersebut. Setelah menyampaikan salam dari gurunya, ia pun menyampaikan maksud dan tujuannya.
Betapa kagetnya sang murid setelah mendengar kata-kata yang keluar dari lisan Sufi yang kaya raya itu. Ia berkata, “Tolong sampaikan salam saya kembali kepada gurumu. Aku berpesan agar dia tidak selalu sibuk dengan urusan dunia.”
Bak disambar petir disiang bolong. Bagaimana mungkin orang kaya raya itu memberi nasehat kepada gurunya yang jauh dari kehidupan dunia agar tidak sibuk dengan urusan dunia. Bukankah yang lebih sibuk mengurus dunia adalah orang kaya tersebut? Ia pamit pulang, tidak jadi berguru kepada orang yang direkomendasikan oleh gurunya.
Sesampai di padepokan gurunya, ia melaporkan semua kejadian yang dialaminya, termasuk nasihat orang kaya itu kepada gurunya. Sang murid lebih tidak mengerti lagi setelah sang guru yang sangat dihormati itu ternyata menangis dan membenarkan nasihat orang kaya raya tersebut.
Sang guru akhirnya menjelaskan bahwa orang kaya raya yang dijumpai oleh muridnya itu memang memiliki istana yang mewah, kendaraan yang bagus, dan selalu berpakaian indah. Tanah perkebunannya luas serta memiliki pabrik yang mempekerjakan banyak karyawan. Namun demikian, harta yang melimpah itu tidak menyebabkannya lalai dan lupa kepada Allah Swt.
Hartanya tidak mengganggu dzikirnya kepada Allah Swt. Ia tidak sombong karena hartanya dan jika sewaktu-waktu hartanya diambil oleh pemiliknya, Allah Swt, ia pun tidak merasa terhina karenanya. Ia memandang harta biasa-biasa saja.
Sementara saya, kata sang Guru, biar tidak punya harta yang melimpah, tapi hari-hari masih disibukkan untuk memikirkan harta. Bahkan bisa jadi saya, kata sang guru, lebih sibuk memikirkan urusan harta dari pada si sufi yang kaya raya tersebut.
Kepada orang yang diberi karunia rizki yang lebih oleh Allah swt, hendaknya mereka dapat mengelola hartanya sebagai sarana untuk mendapatkan harta kekayaan yang lebih besar kelak di akhirat. Tak perlu bersikap kontra produktif dengan meninggalkan kehidupan dunia. Janganlah mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah Swt.
Adapun terhadap orang-orang yang belum mendapatkan rizki lebih dari Allah Swt, hendaklah tetap menjalankan ketaatan kepada Allah Swt dengan tulus dan ikhlas. Nikmati kemiskinan dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Akhirnya, tidak ada halangan bagi orang kaya untuk menjadi shalih dan dekat dengan Allah swt. Demikian juga tidak ada alasan bagi orang miskin untuk tidak mendekat kepada Allah karena kemiskinannya. Orang kaya dan orang miskin mempunyai kesempatan yang sama untuk mendekati Allah Swt.
Selengkapnya...
Jumat, 01 Oktober 2010
ANTARA KAYA DAN MISKIN
Wanita...Kau Begitu Istimewa...

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya.
"Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab aku wanita". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."
Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis?, Ibu menangis tanpa sebab yang jelas". sang ayah menjawab, "Semua wanita memang sering menangis tanpa alasan".
Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Sampai kemudian si anak itu tumbuh menjadi remaja, ia tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Hingga pada suatu malam, ia bermimpi dan
bertanya kepada Tuhan, "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali
menangis?"Dalam mimpinya ia merasa seolah Alloh swt menjawab, "Saat Kuciptakan
wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang
menyerah saat semua orang sudah putus asa.
Kepada wanita, Kuberikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau
letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.
Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan
pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.
Dan akhirnya Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapan pun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan".
***
Sahabatku, sungguh mulia kedudukan wanita sehingga Alloh swt saja memberi perhatian yang khusus kepada MakhlukNya yang unik ini, begitu besar peranannya di muka bumi ini. Maka hargailah..
"Kepada para IBU yang telah melahirkan dan mendidik kita,,semoga Alloh swt memberiMu keberkahan di dunia dan kedudukan yang mulia di Syurga Kelak, Amin,,,"
"Kepada para istri dan anak2 kita, semoga dapat menjadi Istri solekhah dan anak2 yang berbakti, kelak mereka pun menjelma menjadi IBU untuk anak2 kita dan cucu2 kita,,"
"Kepada para Wanita, sungguh Kalian adalah Unik dan spesial, maka semoga menjadi Wanita yang selalu disayang Tuhan...
Terima kasih sahabat,,,tetap semangat !!
Sumber : Cerita-Cerita Motivasi
Selengkapnya...
Senin, 16 Agustus 2010
Perkara yang TIDAK membatalkan Puasa...
1. Tidak membatalkan puasa orang yang mengorek telinga, hidung, memakai celak atau menitiskan ubat ke mata. [Sila rujuk: Mukhtasar Sahih al-Bukhari (4511). Tagliqlut Ta’liq (3/151-152). Lihat Fathul Bari (4/153). HR Bukhari (2/681).]
2. Tidak membatalkan puasa orang yang berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung ketika berwuduk. Namun dilarang juga dari berlebih-lebihan memasukkan air ke hidung bagi orang yang berpuasa. [HR Tirmidhi (3/146). Abu Daud (2/308). Ahmad (4/32). Ibnu Abi Syaibah (3/101). Ibnu Majah (407). Nasaii (87). Sanadnya Sahih.]3. Tidak membatalkan puasa orang yang membasahkan badan, menjirus air ke atas kepala atau mandi, seperti dalam keadaan kepanasan. [HR Abu Daud dalam sunannya (2365). Ahmad dalam musnadnya (5/376,380,408,430). Sanadnya Sahih. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Sunan Abu Daud (2/61). HR Bukhari (2/881). Mukhtasar Sahih Al-Bukhari (hlm 451).]
4. Tidak membatalkan puasa orang yang merasa makanan selagi tidak sampai ke tenggoroknya (tidak ditelan). [HR Bukhari (4/154). Ibnu Saibah (3/47). Baihaqi (4/261). Hadis Hasan. Tagliqut Ta’liq (3/151-152).]
5. Dibolehkan berbekam. [HR Bukhari (4/155). Fathul Bari.]
6. Dibolehkan bersiwak atau menggosok gigi pada bila-bila masa. [HR Bukhari (2/311). Muslim (252). Fathul Bari (4/158). Syarah Sunnah (6/298). Sahih Ibnu Khuzaimah (3/247)]
7. Dibolehkan berkeadaan junub (berhadas besar), sama ada kerana bersetubuh, haid atau nifas dan tidak mandi hadas sehinggalah masuk fajar. [Al-Baqarah (2:187). HR Bukhari (4/123). Muslim (1109).]
8. Dibolehkan bercium, bercumbu atau bemesra dengan isteri. Iaitu sekiranya ia mampu mengawal nafsunya dari terlanjur (bersetubuh) atau terkeluar air mani. [HR Bukhari (4/131). Muslim (1106). HR Ahmad dalam Musnad (2/185,221). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah as-Sahihah (4/138).]
9. Menitiskan ubat ke lubang telinga tidak membatalkan puasa sebagaimana salah satu pendapat dalam Mazhab as-Syafie dan dibolehkan juga oleh Ibn Hazm. [Al Muhalla (6/203=204).]
10. Menggunakan oksigen. Tidak membatalkan puasa sama ada puasa wajib atau puasa sunnah bagi seseorang yang menggunakan oksigen. Termasuklah penggunaan tabung oksigen untuk juruselam di dasar lautan. [Majmu’ Fatawa (15/272-273). Ibn Bazz. Majmu’ Fatawa (19/212-213). Ibn Uthaimin.]
11. Menggunakan alat bronkhodiator. Iaitu sebuah alat untuk tujuan rawatan bagi penghidap penyakit semput, asma atau sesak nafas. [Majmu’ Fatawa (15/265). Ibn Bazz. Majmu’ Fatawa (19/209-210 Ibn Uthaimin. Fatwa Islamiyah (2/131).]
Oleh: Abu Muawiyah Dua
Selengkapnya...
Perkara Sebelum Tidur( Tafsir Haqqi )
Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : "Ya Aisyah jangan engkau tidur
sebelum melakukan empat perkara, yaitu :
1.Sebelum khatam Al Qur'an,
2.Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,
3. Sebelum para muslim meridloi kamu,
4. Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh....Bertanya Aisyah :
"Ya Rasulullah.... Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?"
Rasul tersenyum dan bersabda :
"Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tigakali seakan-akan kau
mengkhatamkan Al Qur'an.
Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Qulhualloohu ahad' Alloohushshomad' lam yalid walam yuulad' walam yakul
lahuu kufuwan ahad' ( 3 x )
Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan
memberi syafaat di hari kiamat.
Bismillaahirrohmaanirrohiim, Alloohumma shollii 'alaa syaidinaa Muhammad
wa alaa aalii syaidinaa Muhammad ( 3 x )
Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu.
Astaghfirulloohal adziim aladzii laa ilaaha illaa
huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih (3x )
Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil,bertakbir maka
seakan-akankamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh"
Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Subhanalloohi Walhamdulillaahi walaailaaha illalloohu alloohu akbar(3 x )
Selengkapnya...
Kamis, 17 Juni 2010
Tentang Dosa Kecil yang menjadi Besar
Oleh: Ahmad Qomarudin
Perlu diketahui bahwa dosa kecil dapat menjadi besar karena beberapa sebab, di antaranya:
1. Apabila dilakukan dengan konsisten dan terus menerus.
Oleh sebab itu dinyatakan oleh para ulama As-Salaf: “Tidak ada yang namanya dosa kecil apabila dilakukan dengan
terus-menerus. Dan tidak ada yang dinamakan dengan dosa besar, bila diiringi dengan taubat.”
2. Karena diremehkan.
Sesungguhnya perbuatan dosa itu apabila dianggap berat oleh seorang hamba, akan menjadi kecil di sisi Allah. Namun
sebaliknya apabila diremehkan, ia akan menjadi besar di sisi Allah. Karena anggapan sebuah dosa sebagai dosa yang
besar, berpangkal dari hati yang benci kepadanya dan berupaya menghindarinya.
3. Apabila seorang hamba merasa senang melakukannya.
Kegembiraan,kebanggaan, dan kelengahan seorang hamba terhadap dosa tersebut, menjadikannya sebagai dosa
besar. Ketika rasa senang kepada dosa kecil sudah mendominasi diri seseorang, maka menjadi besarlah dosa kecil
tersebut dan besar pula pengaruhnya untuk menghitamkan pada hatinya. Sampai-sampai ada pelaku dosa yang bangga
dan berbesar hati dengan dosanya, karena saking gembiranya dia dengan perbuatan doa tersebut. Misalnya seperti
orang yang berkata: “Tidak kamu mengetahui, bagaimana aku membuntuti si Fulanah dan berhasil melihatnya?” Atau
seperti perkataan seseorang usai berdebat: “Tidakkah kamu mengetahui bagaimana aku kemukakan segala
kejelekannya sehingga membuat dirinya malu? Dan bagaimana juga aku merendahkannya? Bagaimana aku
membuatnya kebingungan? Atau bisa juga seperti pernyataan seorang bisnisman: “Tidakkah kamu mengetahui,
bagaimana aku dapat menjual barang palsu kepadanya? Bagaimana aku menipunya? Bagaimana aku preteli hartanya?
Bagaimana aku membuatnya seperti orang bodoh?” Kesemua perbuatan itu bisa merubah dosa-dosa kecil menjadi
besar. Sesungguhnya dosa-dosa itu membinasakan! Apabila seorang hamba terjerumus kepada semua dosa-dosa itu,
syetan berhasil menggiringnya ke arah sana, maka hendaknya ia merasa bahwa dirinya berada di dalam musibah, dan
mengasihani dirinya sendiri, karena syetan berhasil mengalahkannya, dan karena dirinya semakin jauh dari Allah.
4. Apabila menyepelekan pengampunan Allah, merasa santai dan kurang perhatian.
Ia tidak sadar bahwa kesantaiannya itu karena Allah memang membiarkannya demikian agar semakin bertumpuk dosadosanya.
Ia justru beranggapan bahwa ia dapat berbuat maksiat karena Allah memang peluang. Itulah yang dinamakan
dengan “merasa aman” terhadap siksa Allah dan kebodohannya dengan tertipu oleh anggapannya terhadap Allah.
Sebagaimana difirmankan oleh Allah:
“Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: 'Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita
katakan itu' Cukuplah bagi mereka naar Jahannam yang akan mereka masuki. Dan naar itu adalah seburuk-buruk
tempat kembali.” (Al-Mujadilah:8)
5. Apabila dosa itu dilakukan dengan terang-terangan.
Yakni apabila seseorang menyebut-nyebutnya setelah ia melakukannya, atau melakukannya di hadapan orang banyak.
Yang demikian itu adalah tindakan makarnya terhadap ampunan yang seharusnya dapat diberikan kepadanya. Selain
juga dapat mengundang hasrat orang lain yang mendengar atau melihatnya untuk ikut melakukan perbuatan dosa itu.
Jadilah dua macam dosa terkumpul menjadi satu sehingga konsekuensinya menjadi lebih berat. Jika masih ditambah
lagi dengan anjuran kepada orang lain dan ajakan untuk melakukannya, serta penyediaan sarana untuk melakukannya,
jadilah empat kejahatan dalam satu perbuatan. Urusannya pun menjadi semakin jelek.
Dalam hadits disebutkan:
“Setiap umatku dapat diampuni dosa-dosanya, kecuali orang yang mengekspos perbuatan dosanya. Contoh dari
mengekspos dosa adalah seorang lelaki yang berbuat dosa di malam hari, pagi harinya, Allah telah menutupi
perbuatannya itu agar tidak diketahui oleh orang lain. Namun ia justru berkata: 'Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan
ini dan itu.' Di malam hari, hanya Allah yang mengetahui perbuatan dosanya, namun di pagi hari justru dia sendiri yang
menyiarkannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Yang demikian itu karena di antara sifat Allah dan karunia-Nya adalah bahwa Dia ingin menampakkan yang baik-baik dan menyembunyikan yang buruk-buruk. Allah juga tidak akan menyingkap tabir keburukan. Maka menampakkan
keburukan, berarti kekufuran terhadap karunia kenikmatan Allah tersebut. Sebagian ulama berkata: “Janganlah kamu
berbuat dosa. Kalau kamu terpaksa berbuat dosa, janganlah kamu anjurkan orang lain melakukannya, yang
menyebabkanmu melakukan dua dosa sekaligus. Oleh sebab itu Allah berfirman:
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan-perempuan, sebagian dari sebagian yang lain adalah sama, mereka
menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf.”(AT-Taubah :67)
Sebagian ulama As-Salaf berkata: “Tidak pernah seseorang itu melakukan pelanggaran kehormatan yang lebih besar
daripada menolong saudaranya melakukan maksiat dan mempermudah jalan maksiat itu kepadanya.
6. Apabila dilakukan oleh orang alim yang menjadi panutan.
Apabila ia melakukan dosanya itu dengan disaksikan orang lain, dosanya menjadi dosa besar. Seperti menggunjing
orang dengan lidahnya, atau berkata kasar dalam perdebatan, atau menyepelekan orang dengan sengaja, atau sibuk
mempelajari ilmu yang bertujuan hanya untuk mencari kedudukan, seperti ilmu retorika perdebatan. Kesemuanya itu
adalah dosa-dosa seorang alim yang cenderung ditiru orang lain. Ketika si alim meninggal dunia, kajahatannya tetap
bertebaran di muka bumi dalam jangka waktu yang panjang. Sungguh beruntung orang yang membawa mati segala
keburukannya.
Allah berfirman:
“Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (Yasin:12)
Yang dimaksud dengan bekas-bekas yang mereka tinggalkan adalah pengaruh amal perbuatan yang masih terus ada
setelah perbuatan itu bahkan pelakunya sendiri sudah tidak ada lagi.
Sumber:
Dosa - Bahaya dan Pencegahannya oleh Muhammad b.Ahmad Rasyid Ahman, penerbit At-Tibyan halaman 50-55
Selengkapnya...
Selasa, 27 April 2010
Mutiara Hikmah

SAIDINA ABU BAKAR RADHIALLAHU ANHU BERKATA:
Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang membinasakan iaitu:
Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya atau;
hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim atau;
hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan pula atau;
adakalanya harta itu akan dicuri dan dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak bergunaSAIDINA UMAR AL-KHATTAB RADHIALLAHU ANHU BERKATA:
Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya
Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina
Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya
Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga
SAIDINA USTHMAN BIN AFFAN RADHIALLAHU ANHU BERKATA:
Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah:
Hatinya selalu berniat suci
Lidahnya selalu basah dengan zikrullah
Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa)
Segala perkara dihadapaiya dengan sabar dan tabah
Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.
SAIDINA ALI KARRAMALLAHU WAJHAH BERKATA:
Tiada solat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu’
Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia
Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur’an tanpa mengambil pangajaran daripadanya
Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara’
Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi
Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki
Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan
Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya, siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya, siapa yang hilang harga dirinya, bererti dia tidak wara’, sedang orang yang tidak wara’ itu bererti hatinya mati
http://doshi-urfriend.blog.friendster.com/2009/11/
Selengkapnya...
Rabu, 07 April 2010
Luangkan Waktumu untuk Membaca Al-Qur’an!

Penulis: Ummu Yusuf Wikayatu Diny
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar
Saudariku…
Jangan karena kesibukan dan banyaknya kegiatan menjadikan kita lupa untuk membaca dan mentadaburi al-Qur’an. Sesungguhnya ketenangan dan ketentraman dapat diperoleh dari Al-Qur’an.
Hal ini berdasarkan firman Alloh, “Ingatlah hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tentram.” (Qs. ar-Ra’d: 28)
Dari Abdullah bin Mas’ud radiallohu ‘anhu Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)Dan bahkan, iri terhadap mereka yang telah mengamalkan Al-Qur’an, dibolehkan. Dari Ibnu Umar radiallohu ‘anhu yang meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bahwasannya beliau bersabda,
“Tidak berlaku iri kecuali terhadap dua orang, seseorang yang dianugrahi Alloh Al-Qur’an lantas dia mengamalkannya sepanjang malam dan sepanjang siang dan seseorang yang dianugerahi Alloh harta lantas dia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu terdapat permisalan yang baik bagi yang membaca Al-Qur’an, karena Rasululloh pernah bersabda, “Permisalan seorang muslim yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah jeruk, baunya wangi dan rasanya lezat, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah kurma yang tidak ada baunya dan rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan kemangi yang baunya wangi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan labu yang tidak ad wanginya dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari Muslim)
Terdapat hikmah yang indah dari perkataan al-Ajuri rahimahullah,
“Barang siapa yang merenungi firman-Nya maka ia akan mengenal Rabbnya, akan mengetahui keutamaannya dibandingkan orang orang mukmin yang lain, dia akan menyadari kewajibannya dalam beribadah hingga senantiasa berusaha untuk menjaga kewajiban tersebut. Ia akan berhati-hati terhadap apa yang dilarang Rabb-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya. Barang siapa yang memiliki sifat yang demikian, ketika membaca al-Qur’an dan ketika mendengarkanya, maka Al-Qur’an akan menjadi penawar hatinya, ia akan merasa cukup tanpa harta, mulia tanpa kesulitan, lembut dalam menyikapi orang yang kasar padanya.
Orang yang memiliki sifat demikian, ketika ia memulai membaca sebuah surat yang tergambar dibenaknya adalah sejauh mana dia dapat mengambil pelajaran terhadap yang dia baca. Tujuannya membaca Al-Qur’an tidak semata-mata untuk mengkhatamkannya akan tetapi seberapa besar ia dapat memahami perintah Alloh dan mengambil pelajaran darinya. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah maka tidaklah pantas membacanya dengan hati yang kosong lagi lalai, dan Allah Ta’ala maha memberi taufik terhadap yang demikian.”
Wahai saudariku, jangan sampai waktu kita tidak ada sedikitpun untuk membaca atau membaca Al-Qur’an. Berusahalah, walaupun sedikit waktu tersisa.
***
Artikel: muslimah.or.id
Selengkapnya...
